Mengenal Seluk Beluk Bisnis Dunia Rekaman
December 7th, 2005Bagaimana proses sebuah CD / kaset beredar di pasaran ?
Di dalam industri rekaman sebuah produk kaset atau cd audio yang biasa beredar di toko-toko kaset atau outlet-outlet melalui beberapa tahapan atau proses sebagai berikut :
1. Recording
2. Mixing
3. Mastering
4. Duplicating
5. Distribusi
1. Recording
Proses penyimpanan data audio berupa musik atau vocal ke dalam media analog (pita) atau digital (hardisk/scasi komputer). Untuk efisiensi waktu dan biaya sebelum melakukan ‘take atau recording’ sebuah lagu atau musik biasanya telah di arransment terlebih dahulu.
Untuk sebuah album rekaman umumnya diperlukan 10 materi lagu yang sudah di arransement dan memenuhi kriteria ‘nilai komersil’ untuk dijual.
Recording Studio
Tempat ini menyediakan fasilitas bagi para musisi atau penyanyi untuk mengekspresikan dan mengapresiasikan jiwa mereka dalam bermusik ke dalam bentuk media audio. Umumnya recording studio ini dibuat untuk disewakan kepada para musisi atau penyanyi yang ingin melakukan rekaman, tapi ada juga yang membuatnya untuk sekedar hobi atau memenuhi kebutuhan produksi sendiri.
Untuk satu kali rekaman di tempat ini dikenal dengan istilah sewa shift ( sekitar 6 jam per satu kali sewa ). dengan harga yang variatif mulai dari 350rb sampai yang disewakan sangat mahal juga ada( biasanya berhubungan dengan kualitas alat yang disediakan oleh studio itu sendiri ).
Untuk produksi sebuah album rekaman umumnya dibutuhkan minimal 40 - 50 shift pemakaian studio belum termasuk ongkos sewa untuk kebutuhan mixing dan mastering.
Ada 2 jenis studio rekaman didasarkan atas sistem kerjanya, yaitu
a. Analog Recording Studio
yaitu proses ‘take atau recording’, di tempat ini menggunakan menggunakan pita ( Umumnya berukuran 2 inch ,dulu banyak digunakan pita 1 inch tapi sekarang pita dengan ukuran tersebut sudah jarang dipergunakan lagi.) Sebagai media untuk menyimpan data audio hasil rekaman. Keunggulan hasil dari take atau recording di studio jenis ini yaitu sound yang dihasilkan terdengar lebih ‘teba’l dan ‘hangat’. Sementara kelemahannya yaitu ada kecenderungan noise terdengar lebih keras. Hasil ‘take atau recording’ di tempat ini tidak berlaku untuk dimanifulasi atau di edit bilamana ada kesalahan kecuali dilakukan take ulang.
b. Digital Recording Studio.
Studio jenis ini menawarkan banyak kemudahan dalam melakukan proses ‘take atau recording’ bagi para musisi atau player. Karena prosesnya dilakukan secara digital/komputerisasi sehingga data hasil ‘ take atau recording’ dapat dengan mudah di edit atau dimanipulasi sesuai keinginan musisi atau player. Kesalahan seperti cord atau nada yang ‘fals’ sebagai contoh kasus, akan dengan sangat mudah dimanipulasi dengan kecanggihan perangkat softawre/plug-in pendukung fasilitas komputerisasi ini. Jadi sudah tidak heran apabila sebuah band atau penyanyi rekaman yang nge- top dadakan tiba-tiba cukup a’mburadul’ ketikal live performance. Tapi semua itu akan sangat tergantung kepada individu musisi atau music player itu sendiri.
Di masa yang akan datang studio jenis ini perannya akan sangat mungkin menggantikan studio jenis analog, terlebih perangkat pendukung yang berhubungan dengan komputer semakin hari semakin berkembang pesat saja. Kelebihan yang tidak di dapatkan dari hasil sound di studio analog misalnya, mungkin akan segera dapat disesuaikan walaupun pada dasarnya tetap tidak akan sama tapi bisa dipastikan hasilnya cukup mendekati. Dan yang tak kalah penting studio jenis ini menawarkan ke’simple-an’ dan ke’efisienan’ baik waktu maupun biaya.
2. Mixing
Data audio hasil ‘ take atau recording ‘ yang terdiri dari beberapa bahkan sampai berpuluh-puluh track berisi data sound baik alat musik maupun vocal di mix atau digabung menjadi 2 track, itulah yang disebut proses mixing. Proses ini di tangani oleh seorang mix engineer yang betul-betul mengerti bagaimana menempatkan sound yang terdiri dari berpuluh-puluh track tadi agar terdengar sebagai satu kesatuan yang utuh dan harmonis namun detail dari masing-masing sound itu tetap terdengar.
3. Mastering
Pada proses ini hasil mixing berupa data 2 track tadi diatur level frekwensi ‘high-middle-low’ -nya kemudian dibuat flat. fungsi ini dimaksudkan untuk standarisasi kualitas audio agar terdengar baik di semua media player yang biasa di dengarkan oleh masyarakat umum. Data hasil mastering inilah yang kemudian disebut sebagai ‘Master Album’.
4. Duplicating
Yaitu proses duplikasi atau copy ‘Master Album’ ke dalam media kaset atau CD. di Pabrik duplicating ini-lah kaset atau cd dicetak dan dikemas dalam segel setelah sebelumnya produser album menyerahkan cover dan ppn kepada pihak pabrik.
Untuk pabrik besar biasanya memberlakukan 5000-10000 pcs untuk minimal order. tapi ada juga sebagian tempat yang melayani order dalam jumlah kecil sampai dengan per 2000 atau 3000 pcs.
5. Distribusi
Hasil dupikasi album dalam jumlah tertentu akan disebarkan oleh distributor company yang ditunjuk oleh produser album kepada agen-agen mereka dengan sistem konsinyasi untuk kemudian diteruskan ke toko-toko kecil atau retail yang ada dipelosok dengan sistem cash untuk toko-toko yang tidak memiliki rekanan langsung kepada agen.
Untuk beberapa major label atau recording company tertentu biasanya mendistribusikan produk album mereka sendiri.
Pada proses ini diperlukan jalinan kerjasama yang sinergis antara orang promosi dengan marketing yang membawahi bagian distribusi, supaya strategi promosi dibuat tepat waktu dan sasaran.